Surya mulai menyongsong tinggi di
angkasa, cahayanya mulai turun menembus awan, bahkan juga menembus ruang kamarku
yang gelap melalui celah- celah jendela yang tidak tertutup rapi oleh tirai
bergambar bunga-bunga kesayanganku. Cahayanya yang hangat dengan lembut
membelai pipiku. Saat sadar akupun mulai membuka mataku. Bangun dari mimpi
indah yang menipu hati.
Ibu : Eri-Chan !! bangunlah ! hari sudah
semakin siang ! kau benar – benar terlambat
untu ke sekolah sekarang !!
*terdengar suara ibu yang sedang berteriak di bawah tangga*
Eri
: iya ibu aku sudah bangun ! * dengan
sigap bangun dan berbenah diri untuk
berangkat ke sekolah*
Begitulah hari – haiku dimulai. Kegiatan
normal bagi kebanyakan gadis lainnya. Bangun di pagi hari. Sekolah. Teman.
Rumah. Pekerjaan rumah. Dan pacar. Yah kecuali yang satu itu. Hal yang tidak
kumiliki.
Eri
: *langkah kaki yang tergesa- gesa
menuruni anak tangga menuju pintu * Ibu aku
tidak
perlu sarapan ! aku pergi !
perlu sarapan ! aku pergi !
Ibu
: Eri ! tidak sarapan !? ahh kalau
begitu hati – hati ! *teriak ibu yang kebingungan melihat
Eri yang pergi begitu tergesa gesa*
Eri yang pergi begitu tergesa gesa*
Sekolahku jaraknya tidak terlalu
jauh dari rumahku. Cukup berlari selama 10 menit melewati beberapa blok
perumahan saja aku sudah sampai di depan gerbang sekolah dengan nafas tertahan
dan denyut jantung yang berdetak kencang karena panik aku terkejut melihat ada
begitu banyak anak yang terlambat, yah setidaknya bukan aku sendiri yang terlambat.
Pak
Guru : Eri !!!!! kau lagiiii !
kemari kau biar ku ceramahi kau agar otakkmu normal !
*teriak Pak Guru dari tengah lapangan yang sedang memarahi barisan anak – anak yang
terlambat*
*teriak Pak Guru dari tengah lapangan yang sedang memarahi barisan anak – anak yang
terlambat*
Eri
: maaf !! * berlari ke
lapangan menghampiri barisan anak – anak yang terlambat*
Pak
Guru : Baiklah ! kalian semua
harusnya mengerti !! bla blabla... *terdengar
suara ocehan
dari sang Guru*
dari sang Guru*
Dengan patuh kami semua yang ada di
lapangan ini mendengarkan ocehan dari beliau. Ia sudah lama sekali menjadi guru
bagian olahraga di SMU ini. Bapak ini juga sering di panggi dengan sebutan “ Bapak Toa” karena
suaranya yang sedang berbicara baik sedang memarahi murid yang melanggar
peraturan maupun di saat dia berbicara santai suaranya sangat nyaring dan keras.
☻☻
Dengan lelah selama 2 jam lamanya
kami semua di hukum hingga akhirnya sekarang kami diizinkan masuk dan mengikuti
mata pelajaran selanjutnya. Kami semua sangat bersyukur akan hal itu karena
akhirnya kaki kami semua terselamatkan. *grakkk
Suara pintu yang tergeser kakiku
melangkah berat memasuki ruang kelas dan menghampiri salah satu sahabatku di
sekolah ini.
Rika :
wah wahh kali ini lama juga ya ! *dengan wajah yang cengingisan*
Eri :
kau meledek ya ! * wajah cemberut*
Rika
: hahaa.. sudahlah oh ya
untung setelah ini kita memiliki jam bebas yang
cukup panjang para guru sedang rapat sekarang mengurus acara libur tahun baru *wajah girang*
cukup panjang para guru sedang rapat sekarang mengurus acara libur tahun baru *wajah girang*
Eri
: sungguh !? asik ! * melompat kegirangan*
Rika
: ahh sudah kau duduk saja
dulu ! kau kelelahan bukan ? emm dan dan selama 2 jam duduk sendirian
kasihan dia sana sana huss ! *melirik ke arah seorang anak laki –laki dan
mengayunkan tangan seolah –olah mengusir *
Eri
: Rika... jangan..
*berpaling dan meninggalkan Rika*
Dia Amagi.. anak paling aneh di
kelas karena dia pendiam makanya dia sedikit bergaul di kelas dan sering di bully tapi entah kenapa dia tetap saja mengacuhkan mereka yang sering membully dirinya. Jujur saja sudah
2 tahun ini aku mulai mengaguminya dia anak yang pintar dan sopan.. sepertinya.
Eri
: *duduk dan membuka
buku catatan hendak membaca untuk belajar sendiri*
Amagi
: *melirik ke arah Eri*
Eri
: * sadar ada yang
memperhatikan memalingkan wajah dan melihat Amagi* ada apa ? apa ada
sesuatu ?
Amagi
: *membuang muka*
Eri
: huh apasih ? *bergumam dalam hati*
Amagi
: *menyodorkan sebuah buku*
jika kau mau belajar pelajaran itu sudah lewat tadi ini ku pinjamkan catatanku yang sudah ku perbarui tadi, semoga
membantu.
Eri
: *mengulurkan tangan
dengan gugup* te.. terimakasih
Amagi
:*tersenyum*
Asik !!! teriakku dalam hati. Dia
berbicara denganku ! selama dua tahun dia sebelumnya tidak pernah berbicara denganku, bahkan selama aku
duduk satu bangku dengannya. Ini sangat mengejutkanku.
☻☻
Percaya atau tidak setelah hari dimana dia
meminjamkan catatannya padaku sejak saat itulah perlahan – lahan kami semakin
akrab. Bahkan aku berfikir apa mungkin sekarang dia mulai tertarik padaku.
Bahkan bukunya yang dia pinjamkan padaku masih kusimpan di atas meja belajar
kamarku. Aku masih belum mau mengembalikannya karena buku itulah aku jadi
memiliki alasan berbicara padanya.3 minggu berlalu sejak kami mulai akrab.
Tiba-tiba saja suatu hari dia tidak masuk sekolah. Aku sedikit khawatir tanpa
kabar dia begitu saja tidak masuk ke sekolah.
Rika :
Eri ? kau tak apa – apa ? kenapa Amagi tidak menghadiri kelas ? tidak biasanya.
Eri :
kau benar. *termenung dan terdiam.*
1 hari.. 2 hari.. tiga hari.. dia tidak juga kunjung
masuk kelas. Hingga akhirnya waktu bergulir 1 bulan lamanya dia menghilang dari
kami semua, para Guru juga bungkam so’al ini. Setiap kali aku bertanya kepada
guru, di ruang guru mereka hanya berkata “dia baik-baik saja tidak lama lagi
pasti kembali masuk kelas.”
Aku ingin menjenguknya namun sayang aku tak tau dia
tinggal di mana telefonnya pun tidak perna aktif sejak 1 bulan yang lalu. Aku terus
menunggu wajahnya kembali hadir dalam lingkunga kelas. Hingga suatu hari kami
semua mendengar kabar menyedihkan dari Pak Onoki wali kelas kami, beliau
mengatakan bahwa sebenarnya Amagi pernah mengalami sebuah kecelakaan besar yang
nyaris merenggut nyawanya saat itu waktu dia baru pindah ke kota ini kira-kira
kelas 1 SMP dulu. Dia menjalani berbagai rehabilitasi yang berat. Pada awalnya
semua berjalan lancar namun siapa sangka ternyata ada komplikasi pada jaringan organ
tubuhnya yang terluka parah sewaktu dia kecelakaan dulu. Dan juga sayangnya
semua itu baru di diketahui adanya komplikasi tersebut 1setengah tahun yang lalu. Dokter juga
mengatakan bahwa hidupnya mungkin tidak lama lagi. Kini ia di rawat di rumah
sakit kota sebelah, air mataku jatuh membasahi pipiku begitu tahu keadaanya. Dia
berjuang sendirian melawat sakitnya selama ini. Di depakan sahabatku Rika-chan
aku menangis sejadi jadinya. Aku juga tersadar saat itu bahwa aku bukan hanya
mengaguminya, atau menganggumi kepintaran dan kesopanannya. Tapi aku benar –benar menyukainya.
Entah sejak kapan.
Rika :
Eri.. aku turut sedih sudah ku katakan kau menyukainnya. Temui dia jangan biarkan
dia berjuang sendirian aku juga akan menemanimu jika kau mau. *memeluk
Eri dan menangis bersama Eri*
Eri :
ya.. ya.. *mencoba berhenti menangis mengenggam kedua tangan Rika gemetar.*
Semua yang ada di kelas saat itu
juga menundukan kepala dengan raut muka tak percaya bahwa Amagi yang terlihat
sehat didepan mata mereka ternyata saat itu juga sedang menahan sakit yang dia
rasakan di tubuhnya. Kami semua larut dalam duka dan ketidak percayaan.
☻☻☻
Teman
– teman sekelas berniat mengunjungi kuil dan berdoa bersama demi kesembuhan
Amagi lalu baru kemudian menjenguk Amagi bersama-sama. Tapi tidak denganku aku
tak bisa lagi menahan persaanku untuk bertemu dengan Amagi, dia orang baik
kenapa nasibnya harus seperti ini. Siang itu juga begitu bel berbunyi aku
segera berlari meninggalkan kelas dan meninggalkan sekolah tanpa membawa tasku.
Rika
: Eri !! kau mau ke mana ?
tidakkah kau mau ikut bersama kami dulu ?!!
Aku
meninggalkan Rika jauh di belakang mengabaikannya. Dari sekolahke rumah
sakitnya butuh waktu 2 jam jika naik bus namun butuh waktu 1 jam jika naik
kereta. Aku mengayuh kakiku melangkah lebih cepat untuh sampai di stasiun aku
melihat ada satu kereta yang menuju kota sebelah, aku berlari menerobos
gerombolan yang penuh sesak entah siapa yang ku dorong pikiranku hanya tertuju
satu Amagi.
Aku
sempat bingung karna lupa membawa tas namun aku ingat untungnya dompetku ada di
saku blezerku dengan cepat aku mengambil kartuku dan masuk. Terdengar bunyi
pintu kreta yang tertutup. Dalam hati terus kudo’akan amagi dan berharap semoga
aku belum terlambat.
☻☻☻
Tak
butuh waktu lama sampai aku tiba di stasiun berikutnya untungnya rumah sakitnya
tepat berada di depan stasiun kereta. Ku pacu lagi kakiku menuju rumah sakit
saat tanganku membuka pintunya aku melihat ada beberapa suster dan petugas reseptionist.
Langsung saja suster itu membimbingku ke ruang dimana Amagi sedang berjuang dia
mengatakan kondisinya bertambah parah dan mungkin takkan bertahan lama lagi.
Sesampainya
di ruang Amagi. Aku melihat keluarganya di sana ada ayah dan ibunya. Begitupula
kakak perempuannya Amagi. Kakap perempuan Amagi berdiri pertama kali dan
menghampiriku memelukku, dengan tangannya yang kurus putih dan terlihat lemah
itu bergetar. Aku juga ikut menangis karnanya.
Kakak
Perempuan Amagi : Eri-chan terimakasih,
Amagi banyak bercerita tentangmu. Masuklah dia menunggumu. * suara bergetar dan menahan tangis*
Eri
: *mengangguk dan masuk ke ruang Amagi dirawat*
Eri
:
*melihat ke arah dokter yang berusaha menolong Amagi.*
*tak kuasa menahan air mata* A..ma.. gi..kun..
*tak kuasa menahan air mata* A..ma.. gi..kun..
Kakikku
melangkah lemas mendekati ranjangnya di sini dingin ruangan yang steril. Aku mengerti
akan hal itu sang dokter juga marah sekali melihatku masuk begitu saja tanpa
memakai pakaian steril rumah sakit. Aku mengabaikannya dan berkata
Eri
: dia takkan
bertahankan ? izinkan aku berada di sampingnya untuk kali ini saja.
*mendekati Amagi*
Dokterpun
meninggalkan ruangan. Dia terlihat begitu sakit Amagi melihatku dan ku lihat
ekspresinya yang sedih karna aku melihatnya dalam konisi seperti ini aku tak
peduli.
Amagi : lama.. tidak
bertemu Eri...* bersuara getir*
Eri :*terdiam
sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi*
Amagi : maaf.. aku tak
menatakannya aku tidak ingin membuatmu khawatir tapi
kurasa semua percuma, maaf sebelumnya Eri.. selama ini aku memperhatikanmu. Kau yang pertama kali menyapaku saat itu kita masih
sebagai junior. Mereka semua mengataiku karna aku yang terlalu
cuek dan pendiam tapi orang pertama yang membentak mereka dan membelaku adalah
kau yang saat itu duduk disampingku.
Sejak saat itu aku memperhatikanmu.
Eri : *jatuh
berlutut di samping ranjang Amagi dan menangis tak bersuara*
Amagi : mereka terus
saja mengatakan hidupku tidak lama lagi itu menyebalkan.
Saat aku meminjamkan buku catatanku padamu itu sebenarnya
hanya sebuah alasan agar.. aku bisa berbicara..dengan..mu..
Suaranya
mulai terbata bata saat ini aku sadar dia mungkin benar- benar akan pergi jauh
dari kami semua. Aku memberanikan diri dan berdiri mengenggam tangannya. Selagi berusaha
menahan air mataku.
Amagi : ada satu.. hal..
yang ingin ku.. katakan padamu..
Eri :
ka..kata..kan Amagi !
Amagi : kau harus selalu
sehat ya, berhati –hatilah jangan sampai kau melukai
dirimu, dan kau harus selalu tersenyum karna aku menyukai
senyumanmu, itu membuatku merasa lebih hidup. Aku menyukaimu..
*nafas yang tersenggal dan mata yang mulai sayu menatap
Eri*
Eri : yaa.. aku
juga menyukaimu.. Amagi *mengucapkanya sambil tersenyum tulus
bersama dengan air mata.* *mengenggam erat tangan
Amagi*
Bbbiiibbbbbbbbb.........
suara dari alat pendeteksi detak jantung berbunyi dengan nyaring bergema di
seluruh ruangan aku melihatnya Amagi seperti tertidur, tidur untuk selamanya di
dahinya ada peluh yang membasahinya aku tau dia kesakitan saat itu bahkan aku
juga sesak.. semua terasa sesak.. waktuku seakan berhenti.
☻☻☻
Blamm.
Aku menutup pintu ruangan Amagi, saat aku mengangkat kepalaku di depanku ada
keluarganya Amagi di sana juga ada teman teman dan Pak Guru juga Rika yang
memegang tasku. Aku berlari menabrak Rika-chan dan memeluknya kuarasa aku bisa saja mematahkan tulangnya karena terlalu erat memeluknya. Aku menangis sekencang
mungkin di dalam dekapan Rika dan Rika juga menangis bersamaku tidak kami
semua yang ada di sini menangis.
Saat
ini hanya ada satu hal yang ada di benakku. Aku akan hidup dengan baik makan
makanan yang sehat dan akan selalu tersenyum. Meskipun di saat aku menangis,
jiwaku akan berdiam di sini Amagi. Waktuku
akan berhenti saat ini juga dan entah kapan akan bergulir kembali. Bersamamu di
masa lalu. Selamat jalan Amagi. Kau orang yang mengajariku arti dari perasaan
yang tulus. Selamat jalan cinta pertamaku.
hallo semua ! apa kabar kalian ? sudah lama aku tidak mengurus bloggku yahh karna banyak pr yang menumpuk dan juga sedang malas untuk menulis sesuatu, hehe kali ini aku memposting sebuah cerpen yang sudah di konversikan menjadi sebuah naskah drama. Sebenarnya ini salah satu tugas sekolah. Tapi sayang sekali kan kalau cerpen yang sudah di konversikan ini di biarkan begitu saja tanpa di bagikan. semoga kalian suka dan maaf jika dalam penyusunan katanya masih kurang aku masih amatir sih so'alnya. baiklah terima kasih sudah mau berkunjung ke bloggku. Selamat membaca ! ^^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar