Translate

Sabtu, 25 Oktober 2014

Good Bye Amagi-kun

Surya mulai menyongsong tinggi di angkasa, cahayanya mulai turun menembus awan, bahkan juga menembus ruang kamarku yang gelap melalui celah- celah jendela yang tidak tertutup rapi oleh tirai bergambar bunga-bunga kesayanganku. Cahayanya yang hangat dengan lembut membelai pipiku. Saat sadar akupun mulai membuka mataku. Bangun dari mimpi indah yang menipu hati.
Ibu      : Eri-Chan !! bangunlah ! hari sudah semakin siang ! kau benar – benar terlambat   untu ke sekolah sekarang  !! *terdengar suara ibu yang sedang berteriak di bawah tangga*
Eri      : iya ibu aku sudah bangun ! * dengan sigap bangun dan berbenah diri untuk  berangkat ke sekolah*

Begitulah hari – haiku dimulai. Kegiatan normal bagi kebanyakan gadis lainnya. Bangun di pagi hari. Sekolah. Teman. Rumah. Pekerjaan rumah. Dan pacar. Yah kecuali yang satu itu. Hal yang tidak kumiliki.

Eri      : *langkah kaki yang tergesa- gesa menuruni anak tangga menuju pintu * Ibu aku  tidak
perlu sarapan ! aku pergi !
Ibu      : Eri ! tidak sarapan !? ahh kalau begitu hati – hati ! *teriak ibu yang kebingungan melihat
Eri yang pergi begitu tergesa gesa*

Sekolahku jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Cukup berlari selama 10 menit melewati beberapa blok perumahan saja aku sudah sampai di depan gerbang sekolah dengan nafas tertahan dan denyut jantung yang berdetak kencang karena panik aku terkejut melihat ada begitu banyak anak yang terlambat, yah setidaknya bukan aku sendiri yang terlambat.

Pak Guru        : Eri !!!!! kau lagiiii ! kemari kau biar ku ceramahi kau agar otakkmu normal !
*teriak Pak Guru dari tengah lapangan yang sedang memarahi barisan anak – anak yang
terlambat*
Eri                   : maaf !! * berlari ke lapangan menghampiri barisan anak – anak yang terlambat*
Pak Guru        : Baiklah ! kalian semua harusnya mengerti !! bla blabla... *terdengar suara ocehan
dari sang Guru*

Dengan patuh kami semua yang ada di lapangan ini mendengarkan ocehan dari beliau. Ia sudah lama sekali menjadi guru bagian olahraga di SMU ini. Bapak ini juga sering di panggi dengan sebutan “ Bapak Toa” karena suaranya yang sedang berbicara baik sedang memarahi murid yang melanggar peraturan maupun di saat dia berbicara santai suaranya sangat nyaring dan keras.


☻☻

Dengan lelah selama 2 jam lamanya kami semua di hukum hingga akhirnya sekarang kami diizinkan masuk dan mengikuti mata pelajaran selanjutnya. Kami semua sangat bersyukur akan hal itu karena akhirnya kaki kami semua terselamatkan. *grakkk
Suara pintu yang tergeser kakiku melangkah berat memasuki ruang kelas dan menghampiri salah satu sahabatku di sekolah ini.

Rika                : wah wahh kali ini lama juga ya ! *dengan wajah yang cengingisan*
Eri                   : kau meledek ya ! * wajah cemberut*
Rika                : hahaa.. sudahlah oh ya untung setelah ini kita memiliki jam bebas yang
cukup panjang para guru sedang rapat sekarang mengurus acara libur tahun baru *wajah girang*
Eri                   : sungguh  !? asik ! * melompat kegirangan*
Rika                : ahh sudah kau duduk saja dulu ! kau kelelahan bukan ? emm dan dan selama 2 jam duduk sendirian kasihan dia sana sana huss ! *melirik ke arah seorang anak laki –laki dan mengayunkan tangan seolah –olah mengusir *
Eri                   : Rika... jangan.. *berpaling dan meninggalkan Rika*

Dia Amagi.. anak paling aneh di kelas karena dia pendiam makanya dia sedikit bergaul di kelas dan sering di bully tapi entah kenapa dia tetap saja mengacuhkan mereka yang sering membully dirinya. Jujur saja sudah 2 tahun ini aku mulai mengaguminya dia anak yang pintar dan sopan.. sepertinya.
Eri                   : *duduk dan membuka buku catatan hendak membaca untuk belajar sendiri*
Amagi             : *melirik ke arah Eri*
Eri                   : * sadar ada yang memperhatikan memalingkan wajah dan melihat  Amagi* ada apa ? apa ada sesuatu ?
Amagi             : *membuang muka*
Eri                   : huh apasih ? *bergumam dalam hati*
Amagi             : *menyodorkan sebuah buku* jika kau mau belajar pelajaran itu sudah lewat tadi ini ku pinjamkan catatanku yang sudah ku perbarui tadi, semoga membantu.
Eri                   : *mengulurkan tangan dengan gugup* te.. terimakasih
Amagi             :*tersenyum*

Asik !!! teriakku dalam hati. Dia berbicara denganku ! selama dua tahun dia sebelumnya tidak pernah berbicara denganku, bahkan selama aku duduk satu bangku dengannya. Ini sangat mengejutkanku.
☻☻
         Percaya atau tidak setelah hari dimana dia meminjamkan catatannya padaku sejak saat itulah perlahan – lahan kami semakin akrab. Bahkan aku berfikir apa mungkin sekarang dia mulai tertarik padaku. Bahkan bukunya yang dia pinjamkan padaku masih kusimpan di atas meja belajar kamarku. Aku masih belum mau mengembalikannya karena buku itulah aku jadi memiliki alasan berbicara padanya.3 minggu berlalu sejak kami mulai akrab. Tiba-tiba saja suatu hari dia tidak masuk sekolah. Aku sedikit khawatir tanpa kabar dia begitu saja tidak masuk ke sekolah.

Rika                : Eri ? kau tak apa – apa ? kenapa Amagi tidak menghadiri kelas ? tidak biasanya.
Eri                   : kau benar. *termenung dan terdiam.*

          1 hari.. 2 hari.. tiga hari.. dia tidak juga kunjung masuk kelas. Hingga akhirnya waktu bergulir 1 bulan lamanya dia menghilang dari kami semua, para Guru juga bungkam so’al ini. Setiap kali aku bertanya kepada guru, di ruang guru mereka hanya berkata “dia baik-baik saja tidak lama lagi pasti kembali masuk kelas.”
           Aku ingin menjenguknya namun sayang aku tak tau dia tinggal di mana telefonnya pun tidak perna aktif sejak 1 bulan yang lalu. Aku terus menunggu wajahnya kembali hadir dalam lingkunga kelas. Hingga suatu hari kami semua mendengar kabar menyedihkan dari Pak Onoki wali kelas kami, beliau mengatakan bahwa sebenarnya Amagi pernah mengalami sebuah kecelakaan besar yang nyaris merenggut nyawanya saat itu waktu dia baru pindah ke kota ini kira-kira kelas 1 SMP dulu. Dia menjalani berbagai rehabilitasi yang berat. Pada awalnya semua berjalan lancar namun siapa sangka ternyata ada komplikasi pada jaringan organ tubuhnya yang terluka parah sewaktu dia kecelakaan dulu. Dan juga sayangnya semua itu baru di diketahui adanya komplikasi tersebut  1setengah tahun yang lalu. Dokter juga mengatakan bahwa hidupnya mungkin tidak lama lagi. Kini ia di rawat di rumah sakit kota sebelah, air mataku jatuh membasahi pipiku begitu tahu keadaanya. Dia berjuang sendirian melawat sakitnya selama ini. Di depakan sahabatku Rika-chan aku menangis sejadi jadinya. Aku juga tersadar saat itu bahwa aku bukan hanya mengaguminya, atau menganggumi kepintaran dan kesopanannya. Tapi aku benar –benar menyukainya. Entah sejak kapan.

Rika                : Eri.. aku turut sedih sudah ku katakan kau menyukainnya. Temui dia jangan biarkan dia berjuang sendirian aku juga akan menemanimu jika kau mau. *memeluk Eri dan menangis bersama Eri*
Eri                   : ya.. ya.. *mencoba berhenti menangis mengenggam kedua tangan Rika gemetar.*

Semua yang ada di kelas saat itu juga menundukan kepala dengan raut muka tak percaya bahwa Amagi yang terlihat sehat didepan mata mereka ternyata saat itu juga sedang menahan sakit yang dia rasakan di tubuhnya. Kami semua larut dalam duka dan ketidak percayaan.
              

                                                                    ☻☻☻

Teman – teman sekelas berniat mengunjungi kuil dan berdoa bersama demi kesembuhan Amagi lalu baru kemudian menjenguk Amagi bersama-sama. Tapi tidak denganku aku tak bisa lagi menahan persaanku untuk bertemu dengan Amagi, dia orang baik kenapa nasibnya harus seperti ini. Siang itu juga begitu bel berbunyi aku segera berlari meninggalkan kelas dan meninggalkan sekolah tanpa membawa tasku.

Rika                : Eri !! kau mau ke mana ? tidakkah kau mau ikut bersama kami dulu ?!!

Aku meninggalkan Rika jauh di belakang mengabaikannya. Dari sekolahke rumah sakitnya butuh waktu 2 jam jika naik bus namun butuh waktu 1 jam jika naik kereta. Aku mengayuh kakiku melangkah lebih cepat untuh sampai di stasiun aku melihat ada satu kereta yang menuju kota sebelah, aku berlari menerobos gerombolan yang penuh sesak entah siapa yang ku dorong pikiranku hanya tertuju satu Amagi.
Aku sempat bingung karna lupa membawa tas namun aku ingat untungnya dompetku ada di saku blezerku dengan cepat aku mengambil kartuku dan masuk. Terdengar bunyi pintu kreta yang tertutup. Dalam hati terus kudo’akan amagi dan berharap semoga aku belum terlambat.
                                                                     
                                                                       ☻☻☻


                Tak butuh waktu lama sampai aku tiba di stasiun berikutnya untungnya rumah sakitnya tepat berada di depan stasiun kereta. Ku pacu lagi kakiku menuju rumah sakit saat tanganku membuka pintunya aku melihat ada beberapa suster dan petugas reseptionist. Langsung saja suster itu membimbingku ke ruang dimana Amagi sedang berjuang dia mengatakan kondisinya bertambah parah dan mungkin takkan bertahan lama lagi.
Sesampainya di ruang Amagi. Aku melihat keluarganya di sana ada ayah dan ibunya. Begitupula kakak perempuannya Amagi. Kakap perempuan Amagi berdiri pertama kali dan menghampiriku memelukku, dengan tangannya yang kurus putih dan terlihat lemah itu bergetar. Aku juga ikut menangis karnanya.

Kakak Perempuan Amagi : Eri-chan terimakasih, Amagi banyak bercerita tentangmu. Masuklah dia menunggumu. * suara bergetar dan menahan tangis*
Eri                               : *mengangguk dan masuk ke ruang Amagi dirawat*
Eri                               : *melihat ke arah dokter yang berusaha menolong Amagi.*
                                     *tak kuasa menahan air mata* A..ma.. gi..kun..


Kakikku melangkah lemas mendekati ranjangnya di sini dingin ruangan yang steril. Aku mengerti akan hal itu sang dokter juga marah sekali melihatku masuk begitu saja tanpa memakai pakaian steril rumah sakit. Aku mengabaikannya dan berkata

Eri                               : dia takkan bertahankan ? izinkan aku berada di sampingnya untuk kali ini saja. *mendekati Amagi*

Dokterpun meninggalkan ruangan. Dia terlihat begitu sakit Amagi melihatku dan ku lihat ekspresinya yang sedih karna aku melihatnya dalam konisi seperti ini aku tak peduli.

Amagi                        : lama.. tidak bertemu Eri...* bersuara getir*
Eri                              :*terdiam sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi*
Amagi                  : maaf.. aku tak menatakannya aku tidak ingin membuatmu khawatir  tapi kurasa semua percuma, maaf sebelumnya Eri.. selama ini aku memperhatikanmu. Kau yang pertama kali menyapaku saat itu kita masih sebagai junior. Mereka semua mengataiku karna aku yang terlalu cuek dan pendiam tapi orang pertama yang membentak mereka dan membelaku adalah kau yang saat itu duduk disampingku. Sejak saat itu aku memperhatikanmu.
Eri                          : *jatuh berlutut di samping ranjang Amagi dan menangis tak bersuara*
Amagi                    : mereka terus saja mengatakan hidupku tidak lama lagi itu menyebalkan. Saat aku meminjamkan buku catatanku padamu itu sebenarnya hanya sebuah alasan agar.. aku bisa berbicara..dengan..mu..

Suaranya mulai terbata bata saat ini aku sadar dia mungkin benar- benar akan pergi jauh dari kami semua. Aku memberanikan diri dan berdiri mengenggam tangannya. Selagi berusaha menahan air mataku.

Amagi                    : ada satu.. hal.. yang ingin ku.. katakan padamu..
Eri                          : ka..kata..kan Amagi !
Amagi                  : kau harus selalu sehat ya, berhati –hatilah jangan sampai kau melukai dirimu, dan kau harus selalu tersenyum karna aku menyukai senyumanmu, itu membuatku merasa lebih hidup. Aku menyukaimu.. *nafas yang tersenggal dan mata yang mulai sayu menatap Eri*
Eri                       : yaa.. aku juga menyukaimu.. Amagi *mengucapkanya sambil tersenyum tulus bersama dengan air mata.* *mengenggam erat tangan Amagi*

Bbbiiibbbbbbbbb......... suara dari alat pendeteksi detak jantung berbunyi dengan nyaring bergema di seluruh ruangan aku melihatnya Amagi seperti tertidur, tidur untuk selamanya di dahinya ada peluh yang membasahinya aku tau dia kesakitan saat itu bahkan aku juga sesak.. semua terasa sesak.. waktuku seakan berhenti.


                                                            ☻☻☻



                 Blamm. Aku menutup pintu ruangan Amagi, saat aku mengangkat kepalaku di depanku ada keluarganya Amagi di sana juga ada teman teman dan Pak Guru juga Rika yang memegang tasku. Aku berlari menabrak Rika-chan dan memeluknya kuarasa aku bisa saja mematahkan tulangnya karena terlalu erat memeluknya. Aku menangis sekencang mungkin di dalam dekapan Rika dan Rika juga menangis bersamaku tidak kami semua yang ada di sini menangis.

Saat ini hanya ada satu hal yang ada di benakku. Aku akan hidup dengan baik makan makanan yang sehat dan akan selalu tersenyum. Meskipun di saat aku menangis, jiwaku akan berdiam di sini Amagi.  Waktuku akan berhenti saat ini juga dan entah kapan akan bergulir kembali. Bersamamu di masa lalu. Selamat jalan Amagi. Kau orang yang mengajariku arti dari perasaan yang tulus. Selamat jalan cinta pertamaku.

hallo semua ! apa kabar kalian ? sudah lama aku tidak mengurus bloggku yahh karna banyak pr yang menumpuk dan juga sedang malas untuk menulis sesuatu, hehe kali ini aku memposting sebuah cerpen yang sudah di konversikan menjadi sebuah naskah drama. Sebenarnya ini salah satu tugas sekolah. Tapi sayang sekali kan kalau cerpen yang sudah di konversikan ini di biarkan begitu saja tanpa di bagikan. semoga kalian suka dan maaf jika dalam penyusunan katanya masih kurang aku masih amatir sih so'alnya. baiklah terima kasih sudah mau berkunjung ke bloggku. Selamat membaca ! ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar