Hidupku bukanya tak berarti. Hanya saja sedikit tak berwarna. Pagi hari ini awan telihat gelap, saat berfikir bahwa sebentar lagi akan turun hujan, aku bergegas menyambar tas di atas meja dan sepatu dari rak sepatuku,, pagi ini aku melewatkan sarapanku karna terlalu terburu-buru ke sekolah, oh ya sebelumnya aku lupa memperkenalkan diriku, namaku Mikka Kurasawa (16 tahun) aku sekolah di SMA Sokyo,, sekolah itu lumayan menyenangkan bagiku, di sana aku punya seorang sahabat, meski dia serampangan dan agak sedikit gawat tapi bagiku dialah sahabat yang terbaik. aku setengah berlari menuju sekolah, mataku melirik jam di tanganku dan ternyata oh ternyata aku pasti akan terlambat. !!! Ku ayunkan langkah kakikku lebih cepet dan mulai menghembuskan nafas lega saat kakikku menginjak pintu gerbang sekolah tinggal satu menit lagi.. aku nyaris sekali hari ini.
"wahh Mikka ! di sini ! kau nyaris sekali tadi jika tidak Sensei akan menghukummu" aku melangkah ke arah Yuika dia slalu ceria seperti biasanya, dialah sahabatku aku sudah mengenalnya saat pertama kali masuk SMA Sokyo hingga sekarang, meski kelas kami berbeda tapi kami tetap akrab dan satu hal lagi yang ingin ku beri tahukan pada kalian kalau sebenarnya akhir-akhir ini sepertinya aku sedang menyukai seseorang.
" heii heii lihat di sana ada Naoki. ! akkhh Mikka,, ! dia hari ini pun tetap tampan meski langit sedang mendung ! hei Mikka apa kau juga menyukai Naoki ?" ukhhh inilah yang tidak aku sukai,, kenyataan pahit bahwa orang yang kusukai adalah dia orang paling populer di sekolah ini dan lagi dia satu kelas denganku lebih gawat lagi dia duduk di sebelahku ! Sebenarnya dia orang yang pendiam saat di kelas sama sepertiku tak banyak bicara dan wajahnya slalu terlihat pucat, setiap kali ada orang yang bertanya tentang kondisinya dia slalu menelan ludahnya terlebih dahulu dan menjawab "ya aku baik-baik saja" tapi aku slalu tak yakin jika dia baik-baik saja.
"Mikka ? Mikka ? hey. !!!!" aku tiba-tiba saja tersentak dari lamunanku dan berpaling pada Yuika.
"Apa ?" saat aku bertanya pada Yuika tiba-tiba saja terasa aura dingin di belakangku dan sepertinya aku tau itu siapa.
"ahh emm Yuika aku harus masuk kelas bell sudah berbunyi sampai jumpa !" Naoki, yang tadi itu dia ! jantungku berdegup tak menentu saaat tau tadi itu adalah Naoki. Kakikku melangkah cepat menuju kelas meninggalkan Yuika yang masih terlihat bingung jauh di belakangku. *zrrkkkk* ku buka pintu kelas sedikit kencang, mataku tak melihat sekeliling kelas saat itu tapi mataku langsung melirik bangku yang ada di sebelah bangkukku dan tentu saja di sana.. dia ada di sana ! aku melangkah masuk ke dalam dan melangkah menuju mejaku sendiri jantungku berdetak kencang sekali saat itu dan berharap Naoki tak mendengarnya. *mungkin*
Kelas petama hari ini adalah kelas Biologi, seperti biasa aku mengeluarkan buku pelajaran di atas meja, sambil membaca materi pelajaran aku diam-diam meirik ke arahnya dia memang tampan tapi sangat pendiam usianya sama denganku, hanya saja tinggi badannya berbeda jauh denganku. saat aku memikirkan ini semua aku menyadari satu hal dia seperti kurang sehat apa dia sakit ? wajahnya lebih pucat dari biasanya.
***
Kelas petama hari ini adalah kelas Biologi, seperti biasa aku mengeluarkan buku pelajaran di atas meja, sambil membaca materi pelajaran aku diam-diam meirik ke arahnya dia memang tampan tapi sangat pendiam usianya sama denganku, hanya saja tinggi badannya berbeda jauh denganku. saat aku memikirkan ini semua aku menyadari satu hal dia seperti kurang sehat apa dia sakit ? wajahnya lebih pucat dari biasanya.
***
Setelah cukup lama pelajaran berlangsung bel istirahat berdering ke seluruh penjuru ruangan menandakan pelajaran telah berakhir dengan cepat aku membereskan semua buku-buku yang berserakan di atas meja sekali lagi aku mencuri pandang ke arah Naoki dan tiba - tiba.. *brakkk* dia menabrak meja yang ada di depannya sempat membuatku kaget, tapi tanpa pikir panjang aku berlarian ke arahnya.
"kau tak apa-apa ? ayo ku bantu ! kita ke UKS saja sekarang !" benar-benar tanpa pikir panjang tubuhku bergerak sendiri menolongnya.
"lepaskan, tak perlu.. menyingkirlah dariku. kau mengangguku " sejenak aku terdiam di tempatku berdiri sekarang, dia menyentakkan tanganku dan berkata kasar, tapi aneh entah mengapa debaran di jantungku semakin kencang. Aku merasakan darah seperti mendidih di wajahku itu pasti akan memberikan efek merah padam di wajahku. Eitss tapi ini bukan karna sakit yahh tapi mungkin benar juga jantungku.. sepertinya sakit. Sejak tadi terus berdetak dengan kencang.
" ehh ? Naoki ? ahh Mikka !! kau kenapa ?" pikiranku beralih ke Yuika yang ada di sampingku tapi mataku masih tertuju pada punggungnya yang kian menjauh.. Naoki.. entah mengapa kau membuatku seperti orang bodoh setiap kalinya aku melihatmu, kau membuatku tergil - agila.
***
Setelah kejadian di waktu istirahat tadi Naoki hanya diam saja tak menoleh atau meminta maaf sekalipun. Tapi tetap saja debaran ini tak bisa berhenti apa aku harus menegurnya terlebih dahulu ? atau aku diam saja seperti biasa. *tukk* Punggung tanganku tak sengaja beradu dengan punggung tangannya, aku langsung saja menarik tanganku dengan cepat dan menatapnya panik. Astaga... tubuhnya dingin sekali kurasa dia benar - benar sedang dalam kondisi tidak baik. Setelah berpikir begitu aku teringat satu hal, sepertinya aku punya sesuatu di dalam tasku.. hmmm ahh ini dia koyo penghangat.
"a..anu.. Naoki.. i..ini ku rasa kau kedinginan pakai ini saja biar kau hangat" Dengan sedikit gugup aku menyerahkan koyo penghangat ini ke arahnya dengan tangannku yang sepertinya bergetar, dengan perasaan yang kalang kabut aku menunggu respon darinya, aku sudah siap jika dia akan memberikan respon yang kurang baik atau berkata dingin lagi kepadaku. Hatiku setebal baja tenang saja, aku berdalih agar gugupku hilang. Beberapa saat aku tenggelam dalam pikiran yang membludak akan respon darinya nanti tapi aku sontak behenti untuk membayangkan responnya. Seseorang mengambil koyo itu dari tanganku, segera aku mengangkat kepala tak percaya jika Naoki mau menerimanya, dan benar saja dia mengambilnya ! untuk pertama kali aku bisa membantunya ! dia hanya melihat ke koyo itu saja lalu memalingkan wajahnya ke padaku dan mengucapkan "Terimakasih."
meski dia menjawabnya dengan singkat tapi aku sangat senang ! mataku melirik ke luar jendela awan gelap di sertai hujan rintik - rintik tadi pagi hingga siang hari tadi kini berhenti dan perlahan awan hitam itu menyibak membiarkan cahaya mentari kembali menyinari bumi. Sama seperti hatiku saat ini aku merasa begitu bahagia. Saat itu aku berpikir begitu naif bahwa semuanya mungkin akan berjalan lancar dan berharap Naoki bisa merasakan perasaan yang sama denganku namun pada kenyataannya aku tak tau sama sekali akan takdir yang tidak menguntungkan yang telah menanti untuk hubunganku dan Naoki.
***
meski dia menjawabnya dengan singkat tapi aku sangat senang ! mataku melirik ke luar jendela awan gelap di sertai hujan rintik - rintik tadi pagi hingga siang hari tadi kini berhenti dan perlahan awan hitam itu menyibak membiarkan cahaya mentari kembali menyinari bumi. Sama seperti hatiku saat ini aku merasa begitu bahagia. Saat itu aku berpikir begitu naif bahwa semuanya mungkin akan berjalan lancar dan berharap Naoki bisa merasakan perasaan yang sama denganku namun pada kenyataannya aku tak tau sama sekali akan takdir yang tidak menguntungkan yang telah menanti untuk hubunganku dan Naoki.
***