Translate

Sabtu, 02 Januari 2016

A drop of blood for Life part 1

      Hidupku bukanya tak berarti. Hanya saja sedikit tak berwarna. Pagi hari ini awan telihat gelap, saat berfikir bahwa sebentar lagi akan turun hujan, aku bergegas menyambar tas di atas meja dan sepatu dari rak sepatuku,, pagi ini aku melewatkan sarapanku karna terlalu terburu-buru ke sekolah, oh ya sebelumnya aku lupa memperkenalkan diriku, namaku Mikka Kurasawa (16 tahun) aku sekolah di SMA Sokyo,, sekolah itu lumayan menyenangkan bagiku, di sana aku punya seorang sahabat, meski dia serampangan dan agak sedikit gawat tapi bagiku dialah sahabat yang terbaik. aku setengah berlari menuju sekolah, mataku melirik jam di tanganku dan ternyata oh ternyata aku pasti akan terlambat. !!! Ku ayunkan langkah kakikku lebih cepet dan mulai menghembuskan nafas lega saat kakikku menginjak pintu gerbang sekolah tinggal satu menit lagi.. aku nyaris sekali hari ini.

        "wahh Mikka ! di sini ! kau nyaris sekali tadi jika tidak Sensei akan menghukummu" aku melangkah ke arah Yuika dia slalu ceria seperti biasanya, dialah sahabatku aku sudah mengenalnya saat pertama kali masuk SMA Sokyo hingga sekarang, meski kelas kami berbeda tapi kami tetap akrab dan satu hal lagi yang ingin ku beri tahukan pada kalian kalau sebenarnya akhir-akhir ini sepertinya aku sedang menyukai seseorang.

         " heii heii lihat di sana ada Naoki. ! akkhh Mikka,, ! dia hari ini pun tetap tampan meski langit sedang mendung ! hei Mikka apa kau juga menyukai Naoki ?" ukhhh inilah yang tidak aku sukai,, kenyataan pahit bahwa orang yang kusukai adalah dia orang paling populer di sekolah ini dan lagi dia satu kelas denganku lebih gawat lagi dia duduk di sebelahku ! Sebenarnya dia orang yang pendiam saat di kelas sama sepertiku tak banyak bicara dan wajahnya slalu terlihat pucat, setiap kali ada orang yang bertanya tentang kondisinya dia slalu menelan ludahnya terlebih dahulu dan menjawab "ya aku baik-baik saja" tapi aku slalu tak yakin jika dia baik-baik saja.

        "Mikka ? Mikka ? hey. !!!!" aku tiba-tiba saja tersentak dari lamunanku dan berpaling pada Yuika.

        "Apa ?" saat aku bertanya pada Yuika tiba-tiba saja terasa aura dingin di belakangku dan sepertinya aku tau itu siapa.

        "ahh emm Yuika aku harus masuk kelas bell sudah berbunyi sampai jumpa !" Naoki, yang tadi itu dia ! jantungku berdegup tak menentu saaat tau tadi itu adalah Naoki. Kakikku melangkah cepat menuju kelas meninggalkan Yuika yang masih terlihat bingung jauh di belakangku.  *zrrkkkk* ku buka pintu kelas sedikit kencang, mataku tak melihat sekeliling kelas saat itu tapi mataku langsung melirik bangku yang ada di sebelah bangkukku dan tentu saja di sana.. dia ada di sana ! aku melangkah masuk ke dalam dan melangkah menuju mejaku sendiri jantungku berdetak kencang sekali saat itu dan berharap Naoki tak mendengarnya. *mungkin*

         Kelas petama hari ini adalah kelas Biologi, seperti biasa aku mengeluarkan buku pelajaran di atas meja, sambil membaca materi pelajaran aku diam-diam meirik ke arahnya dia memang tampan tapi sangat pendiam usianya sama denganku, hanya saja tinggi badannya berbeda jauh denganku. saat aku memikirkan ini semua aku menyadari satu hal dia seperti kurang sehat  apa dia sakit ? wajahnya lebih pucat dari biasanya.

                                                                ***

    Setelah cukup lama pelajaran berlangsung bel istirahat berdering ke seluruh penjuru ruangan menandakan pelajaran telah berakhir dengan cepat aku membereskan semua buku-buku yang berserakan di atas meja sekali lagi aku mencuri pandang ke arah Naoki dan tiba - tiba.. *brakkk* dia menabrak meja yang ada di depannya sempat membuatku kaget, tapi tanpa pikir panjang aku berlarian ke arahnya.

    "kau tak apa-apa ? ayo ku bantu ! kita ke UKS saja sekarang !" benar-benar tanpa pikir panjang tubuhku bergerak sendiri menolongnya.
      "lepaskan, tak perlu.. menyingkirlah dariku. kau mengangguku " sejenak aku terdiam di tempatku berdiri sekarang, dia menyentakkan tanganku dan berkata kasar, tapi aneh entah mengapa debaran di jantungku semakin kencang. Aku merasakan darah seperti mendidih di wajahku itu pasti akan memberikan efek merah padam di wajahku. Eitss tapi ini bukan karna sakit yahh tapi mungkin benar juga jantungku.. sepertinya sakit. Sejak tadi terus berdetak dengan kencang.

        " ehh ? Naoki ? ahh Mikka !! kau kenapa ?" pikiranku beralih ke Yuika yang ada di sampingku tapi mataku masih tertuju pada punggungnya yang kian menjauh.. Naoki.. entah mengapa kau membuatku seperti orang bodoh setiap kalinya aku melihatmu, kau membuatku tergil - agila.

                                                                  ***

        Setelah kejadian di waktu istirahat tadi Naoki hanya diam saja tak menoleh atau meminta maaf sekalipun. Tapi tetap saja debaran ini tak bisa berhenti apa aku harus menegurnya terlebih dahulu ? atau aku diam saja seperti biasa. *tukk* Punggung tanganku tak sengaja beradu dengan punggung tangannya, aku langsung saja menarik tanganku dengan cepat dan menatapnya panik. Astaga... tubuhnya dingin sekali kurasa dia benar - benar sedang dalam kondisi tidak baik. Setelah berpikir begitu aku teringat satu hal, sepertinya aku punya sesuatu di dalam tasku.. hmmm ahh ini dia koyo penghangat.

           "a..anu.. Naoki.. i..ini ku rasa kau kedinginan pakai ini saja biar kau hangat" Dengan sedikit gugup aku menyerahkan koyo penghangat ini ke arahnya dengan tangannku yang sepertinya bergetar, dengan perasaan yang kalang kabut aku menunggu respon darinya, aku sudah siap jika dia akan memberikan respon yang kurang baik atau berkata dingin lagi kepadaku. Hatiku setebal baja tenang saja, aku berdalih agar gugupku hilang. Beberapa saat aku tenggelam dalam pikiran yang membludak akan respon darinya nanti tapi aku sontak behenti untuk membayangkan responnya. Seseorang mengambil koyo itu dari tanganku, segera aku mengangkat kepala tak percaya jika Naoki mau menerimanya, dan benar saja dia mengambilnya ! untuk pertama kali aku bisa membantunya ! dia hanya melihat ke koyo itu saja lalu memalingkan wajahnya ke padaku dan mengucapkan "Terimakasih."

             meski dia menjawabnya dengan singkat tapi aku sangat senang ! mataku melirik ke luar jendela awan gelap di sertai hujan rintik - rintik tadi pagi hingga siang hari tadi kini berhenti dan perlahan awan hitam itu menyibak membiarkan cahaya mentari kembali menyinari bumi. Sama seperti hatiku saat ini aku merasa begitu bahagia. Saat itu aku berpikir begitu naif bahwa semuanya mungkin akan berjalan lancar dan berharap Naoki bisa merasakan perasaan yang sama denganku namun pada kenyataannya aku tak tau sama sekali akan takdir yang tidak menguntungkan yang telah menanti untuk hubunganku dan Naoki.

                                                                ***

hallllooooo terimaksih sudah membaca cerpenku kali ini, sebenarnya ini naskah sudah lama berdiam di draff cerpen cerpenku dan baru kali ini aku meng publikasikannya semoga kalian suka ^^ part 2 nya akan kuusahakan segera terbit di blog ini sampai jumpa lagii ^ 3 ^


Senin, 28 Desember 2015

Catatan Kecil

           Ingin tahu sesauatu hal yang menarik ? sesuatu yang jika kau menatapnya kau takkan bisa menyangkal akan sebuah keindahan sejati dan sebuah rezeki dari nya yang menciptakan dunia ini ? hal itu adalah Hujan. Benar. Hujan.

           Sebuah keajaiban dan sebuah hadiah terindah yang diberikan Sang Pencipta untuk kita, dimana segumpalan awan hitam yang terdiri dari gumbalan uap atau gas juga bintik - bintik air, dan bintik - bintik air itu turun satu per satu membasahi bumi. Hanya pada saat itu lah aku akan otomatis jujur terhadap dunia, hanya pada saat itu lah sebuah topeng kaku yang membingkai di wajah ku lepaskan, tawa, tangis, senang, sedih, amarah, kecewa, dan bahagia. Semua itu akan nampak di wajahku dengan polosnya.

           Di depan teras aku termenung menatap gemericik air di sebuah kolam ikan, aku berdiri dan melangkahkan kaki menuju taman, terguyur oleh derasnya hujan air, mendongakan wajah menatap langit yang gelap, dan melihat langsung tetesan air hujan yang turun tanpa hambatan ke wajah dan juga rerumputan, mengenang semua masa indah yang pernah kulalui ketika hidup, mengingat semua masa kecil, masa kecil yang kurindukan dimana tiada duka dan luka, dimana tiada beban dan derita, karena saat itu aku hanyalah seorang anak kecil. Dan hanya pada saat hujna turunlah perasaan hangat itu kembali menghampiri.

Hanya pada saat hujan turun
hanya pada saat itu lepaskanlah semua beban dan deritamu
lepaskan sejenak semua kejenuhan dan lelahmu
dengarkan suara hujan yang turun dan lepaskan topengmu, sama seperti yang ku lakukan
maka rasakanlah sebuah kebahagiaan kecil tak ternilai dari Sang Pencipta untukmu J

Selasa, 09 Juni 2015

Hanya.. Seruan Hati yang Memberontak.

Ada masa dimana aku merasa cukup iri terhadap mereka yang memiliki keberanian untuk melangkah lebih jauh.
Memiliki nyali yang cukup besar untuk merentangkan tangan mereka dan berlari encang mengahadapi dunia.
Ada masa di mana aku juga ingin melangkah maju, namun terbelenggu oleh keraguan.
Terbelenggu oleh ketakutan.
Ada masa di mana aku membenci diri sendiri, disaat mereka semua telah berlari jauh di depan mataku, sedangkan aku yang begitu takut untuk melangkah.
Aku yang begitu bodoh dan bersembunyi dari dunia.

Ada masa di mana aku ingin berteriak dan mengeluarkan semua yang ada dalam hati. Memaki dan bernyanyi untuk jiwaku.
Ada masa dimana aku merasa ingin sekali melangkah mengejar mereka.
Ingin sekali mencoba merentangkan sayap dan mencoba menggapai kebebasan.

Dibawah sinar lampu diatas sebuah panggung kehidupan
dan bernyanyi melantunkan alunan indah puisi tentang dunia.

Sabtu, 25 Oktober 2014

Good Bye Amagi-kun

Surya mulai menyongsong tinggi di angkasa, cahayanya mulai turun menembus awan, bahkan juga menembus ruang kamarku yang gelap melalui celah- celah jendela yang tidak tertutup rapi oleh tirai bergambar bunga-bunga kesayanganku. Cahayanya yang hangat dengan lembut membelai pipiku. Saat sadar akupun mulai membuka mataku. Bangun dari mimpi indah yang menipu hati.
Ibu      : Eri-Chan !! bangunlah ! hari sudah semakin siang ! kau benar – benar terlambat   untu ke sekolah sekarang  !! *terdengar suara ibu yang sedang berteriak di bawah tangga*
Eri      : iya ibu aku sudah bangun ! * dengan sigap bangun dan berbenah diri untuk  berangkat ke sekolah*

Begitulah hari – haiku dimulai. Kegiatan normal bagi kebanyakan gadis lainnya. Bangun di pagi hari. Sekolah. Teman. Rumah. Pekerjaan rumah. Dan pacar. Yah kecuali yang satu itu. Hal yang tidak kumiliki.

Eri      : *langkah kaki yang tergesa- gesa menuruni anak tangga menuju pintu * Ibu aku  tidak
perlu sarapan ! aku pergi !
Ibu      : Eri ! tidak sarapan !? ahh kalau begitu hati – hati ! *teriak ibu yang kebingungan melihat
Eri yang pergi begitu tergesa gesa*

Sekolahku jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahku. Cukup berlari selama 10 menit melewati beberapa blok perumahan saja aku sudah sampai di depan gerbang sekolah dengan nafas tertahan dan denyut jantung yang berdetak kencang karena panik aku terkejut melihat ada begitu banyak anak yang terlambat, yah setidaknya bukan aku sendiri yang terlambat.

Pak Guru        : Eri !!!!! kau lagiiii ! kemari kau biar ku ceramahi kau agar otakkmu normal !
*teriak Pak Guru dari tengah lapangan yang sedang memarahi barisan anak – anak yang
terlambat*
Eri                   : maaf !! * berlari ke lapangan menghampiri barisan anak – anak yang terlambat*
Pak Guru        : Baiklah ! kalian semua harusnya mengerti !! bla blabla... *terdengar suara ocehan
dari sang Guru*

Dengan patuh kami semua yang ada di lapangan ini mendengarkan ocehan dari beliau. Ia sudah lama sekali menjadi guru bagian olahraga di SMU ini. Bapak ini juga sering di panggi dengan sebutan “ Bapak Toa” karena suaranya yang sedang berbicara baik sedang memarahi murid yang melanggar peraturan maupun di saat dia berbicara santai suaranya sangat nyaring dan keras.


☻☻

Dengan lelah selama 2 jam lamanya kami semua di hukum hingga akhirnya sekarang kami diizinkan masuk dan mengikuti mata pelajaran selanjutnya. Kami semua sangat bersyukur akan hal itu karena akhirnya kaki kami semua terselamatkan. *grakkk
Suara pintu yang tergeser kakiku melangkah berat memasuki ruang kelas dan menghampiri salah satu sahabatku di sekolah ini.

Rika                : wah wahh kali ini lama juga ya ! *dengan wajah yang cengingisan*
Eri                   : kau meledek ya ! * wajah cemberut*
Rika                : hahaa.. sudahlah oh ya untung setelah ini kita memiliki jam bebas yang
cukup panjang para guru sedang rapat sekarang mengurus acara libur tahun baru *wajah girang*
Eri                   : sungguh  !? asik ! * melompat kegirangan*
Rika                : ahh sudah kau duduk saja dulu ! kau kelelahan bukan ? emm dan dan selama 2 jam duduk sendirian kasihan dia sana sana huss ! *melirik ke arah seorang anak laki –laki dan mengayunkan tangan seolah –olah mengusir *
Eri                   : Rika... jangan.. *berpaling dan meninggalkan Rika*

Dia Amagi.. anak paling aneh di kelas karena dia pendiam makanya dia sedikit bergaul di kelas dan sering di bully tapi entah kenapa dia tetap saja mengacuhkan mereka yang sering membully dirinya. Jujur saja sudah 2 tahun ini aku mulai mengaguminya dia anak yang pintar dan sopan.. sepertinya.
Eri                   : *duduk dan membuka buku catatan hendak membaca untuk belajar sendiri*
Amagi             : *melirik ke arah Eri*
Eri                   : * sadar ada yang memperhatikan memalingkan wajah dan melihat  Amagi* ada apa ? apa ada sesuatu ?
Amagi             : *membuang muka*
Eri                   : huh apasih ? *bergumam dalam hati*
Amagi             : *menyodorkan sebuah buku* jika kau mau belajar pelajaran itu sudah lewat tadi ini ku pinjamkan catatanku yang sudah ku perbarui tadi, semoga membantu.
Eri                   : *mengulurkan tangan dengan gugup* te.. terimakasih
Amagi             :*tersenyum*

Asik !!! teriakku dalam hati. Dia berbicara denganku ! selama dua tahun dia sebelumnya tidak pernah berbicara denganku, bahkan selama aku duduk satu bangku dengannya. Ini sangat mengejutkanku.
☻☻
         Percaya atau tidak setelah hari dimana dia meminjamkan catatannya padaku sejak saat itulah perlahan – lahan kami semakin akrab. Bahkan aku berfikir apa mungkin sekarang dia mulai tertarik padaku. Bahkan bukunya yang dia pinjamkan padaku masih kusimpan di atas meja belajar kamarku. Aku masih belum mau mengembalikannya karena buku itulah aku jadi memiliki alasan berbicara padanya.3 minggu berlalu sejak kami mulai akrab. Tiba-tiba saja suatu hari dia tidak masuk sekolah. Aku sedikit khawatir tanpa kabar dia begitu saja tidak masuk ke sekolah.

Rika                : Eri ? kau tak apa – apa ? kenapa Amagi tidak menghadiri kelas ? tidak biasanya.
Eri                   : kau benar. *termenung dan terdiam.*

          1 hari.. 2 hari.. tiga hari.. dia tidak juga kunjung masuk kelas. Hingga akhirnya waktu bergulir 1 bulan lamanya dia menghilang dari kami semua, para Guru juga bungkam so’al ini. Setiap kali aku bertanya kepada guru, di ruang guru mereka hanya berkata “dia baik-baik saja tidak lama lagi pasti kembali masuk kelas.”
           Aku ingin menjenguknya namun sayang aku tak tau dia tinggal di mana telefonnya pun tidak perna aktif sejak 1 bulan yang lalu. Aku terus menunggu wajahnya kembali hadir dalam lingkunga kelas. Hingga suatu hari kami semua mendengar kabar menyedihkan dari Pak Onoki wali kelas kami, beliau mengatakan bahwa sebenarnya Amagi pernah mengalami sebuah kecelakaan besar yang nyaris merenggut nyawanya saat itu waktu dia baru pindah ke kota ini kira-kira kelas 1 SMP dulu. Dia menjalani berbagai rehabilitasi yang berat. Pada awalnya semua berjalan lancar namun siapa sangka ternyata ada komplikasi pada jaringan organ tubuhnya yang terluka parah sewaktu dia kecelakaan dulu. Dan juga sayangnya semua itu baru di diketahui adanya komplikasi tersebut  1setengah tahun yang lalu. Dokter juga mengatakan bahwa hidupnya mungkin tidak lama lagi. Kini ia di rawat di rumah sakit kota sebelah, air mataku jatuh membasahi pipiku begitu tahu keadaanya. Dia berjuang sendirian melawat sakitnya selama ini. Di depakan sahabatku Rika-chan aku menangis sejadi jadinya. Aku juga tersadar saat itu bahwa aku bukan hanya mengaguminya, atau menganggumi kepintaran dan kesopanannya. Tapi aku benar –benar menyukainya. Entah sejak kapan.

Rika                : Eri.. aku turut sedih sudah ku katakan kau menyukainnya. Temui dia jangan biarkan dia berjuang sendirian aku juga akan menemanimu jika kau mau. *memeluk Eri dan menangis bersama Eri*
Eri                   : ya.. ya.. *mencoba berhenti menangis mengenggam kedua tangan Rika gemetar.*

Semua yang ada di kelas saat itu juga menundukan kepala dengan raut muka tak percaya bahwa Amagi yang terlihat sehat didepan mata mereka ternyata saat itu juga sedang menahan sakit yang dia rasakan di tubuhnya. Kami semua larut dalam duka dan ketidak percayaan.
              

                                                                    ☻☻☻

Teman – teman sekelas berniat mengunjungi kuil dan berdoa bersama demi kesembuhan Amagi lalu baru kemudian menjenguk Amagi bersama-sama. Tapi tidak denganku aku tak bisa lagi menahan persaanku untuk bertemu dengan Amagi, dia orang baik kenapa nasibnya harus seperti ini. Siang itu juga begitu bel berbunyi aku segera berlari meninggalkan kelas dan meninggalkan sekolah tanpa membawa tasku.

Rika                : Eri !! kau mau ke mana ? tidakkah kau mau ikut bersama kami dulu ?!!

Aku meninggalkan Rika jauh di belakang mengabaikannya. Dari sekolahke rumah sakitnya butuh waktu 2 jam jika naik bus namun butuh waktu 1 jam jika naik kereta. Aku mengayuh kakiku melangkah lebih cepat untuh sampai di stasiun aku melihat ada satu kereta yang menuju kota sebelah, aku berlari menerobos gerombolan yang penuh sesak entah siapa yang ku dorong pikiranku hanya tertuju satu Amagi.
Aku sempat bingung karna lupa membawa tas namun aku ingat untungnya dompetku ada di saku blezerku dengan cepat aku mengambil kartuku dan masuk. Terdengar bunyi pintu kreta yang tertutup. Dalam hati terus kudo’akan amagi dan berharap semoga aku belum terlambat.
                                                                     
                                                                       ☻☻☻


                Tak butuh waktu lama sampai aku tiba di stasiun berikutnya untungnya rumah sakitnya tepat berada di depan stasiun kereta. Ku pacu lagi kakiku menuju rumah sakit saat tanganku membuka pintunya aku melihat ada beberapa suster dan petugas reseptionist. Langsung saja suster itu membimbingku ke ruang dimana Amagi sedang berjuang dia mengatakan kondisinya bertambah parah dan mungkin takkan bertahan lama lagi.
Sesampainya di ruang Amagi. Aku melihat keluarganya di sana ada ayah dan ibunya. Begitupula kakak perempuannya Amagi. Kakap perempuan Amagi berdiri pertama kali dan menghampiriku memelukku, dengan tangannya yang kurus putih dan terlihat lemah itu bergetar. Aku juga ikut menangis karnanya.

Kakak Perempuan Amagi : Eri-chan terimakasih, Amagi banyak bercerita tentangmu. Masuklah dia menunggumu. * suara bergetar dan menahan tangis*
Eri                               : *mengangguk dan masuk ke ruang Amagi dirawat*
Eri                               : *melihat ke arah dokter yang berusaha menolong Amagi.*
                                     *tak kuasa menahan air mata* A..ma.. gi..kun..


Kakikku melangkah lemas mendekati ranjangnya di sini dingin ruangan yang steril. Aku mengerti akan hal itu sang dokter juga marah sekali melihatku masuk begitu saja tanpa memakai pakaian steril rumah sakit. Aku mengabaikannya dan berkata

Eri                               : dia takkan bertahankan ? izinkan aku berada di sampingnya untuk kali ini saja. *mendekati Amagi*

Dokterpun meninggalkan ruangan. Dia terlihat begitu sakit Amagi melihatku dan ku lihat ekspresinya yang sedih karna aku melihatnya dalam konisi seperti ini aku tak peduli.

Amagi                        : lama.. tidak bertemu Eri...* bersuara getir*
Eri                              :*terdiam sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi*
Amagi                  : maaf.. aku tak menatakannya aku tidak ingin membuatmu khawatir  tapi kurasa semua percuma, maaf sebelumnya Eri.. selama ini aku memperhatikanmu. Kau yang pertama kali menyapaku saat itu kita masih sebagai junior. Mereka semua mengataiku karna aku yang terlalu cuek dan pendiam tapi orang pertama yang membentak mereka dan membelaku adalah kau yang saat itu duduk disampingku. Sejak saat itu aku memperhatikanmu.
Eri                          : *jatuh berlutut di samping ranjang Amagi dan menangis tak bersuara*
Amagi                    : mereka terus saja mengatakan hidupku tidak lama lagi itu menyebalkan. Saat aku meminjamkan buku catatanku padamu itu sebenarnya hanya sebuah alasan agar.. aku bisa berbicara..dengan..mu..

Suaranya mulai terbata bata saat ini aku sadar dia mungkin benar- benar akan pergi jauh dari kami semua. Aku memberanikan diri dan berdiri mengenggam tangannya. Selagi berusaha menahan air mataku.

Amagi                    : ada satu.. hal.. yang ingin ku.. katakan padamu..
Eri                          : ka..kata..kan Amagi !
Amagi                  : kau harus selalu sehat ya, berhati –hatilah jangan sampai kau melukai dirimu, dan kau harus selalu tersenyum karna aku menyukai senyumanmu, itu membuatku merasa lebih hidup. Aku menyukaimu.. *nafas yang tersenggal dan mata yang mulai sayu menatap Eri*
Eri                       : yaa.. aku juga menyukaimu.. Amagi *mengucapkanya sambil tersenyum tulus bersama dengan air mata.* *mengenggam erat tangan Amagi*

Bbbiiibbbbbbbbb......... suara dari alat pendeteksi detak jantung berbunyi dengan nyaring bergema di seluruh ruangan aku melihatnya Amagi seperti tertidur, tidur untuk selamanya di dahinya ada peluh yang membasahinya aku tau dia kesakitan saat itu bahkan aku juga sesak.. semua terasa sesak.. waktuku seakan berhenti.


                                                            ☻☻☻



                 Blamm. Aku menutup pintu ruangan Amagi, saat aku mengangkat kepalaku di depanku ada keluarganya Amagi di sana juga ada teman teman dan Pak Guru juga Rika yang memegang tasku. Aku berlari menabrak Rika-chan dan memeluknya kuarasa aku bisa saja mematahkan tulangnya karena terlalu erat memeluknya. Aku menangis sekencang mungkin di dalam dekapan Rika dan Rika juga menangis bersamaku tidak kami semua yang ada di sini menangis.

Saat ini hanya ada satu hal yang ada di benakku. Aku akan hidup dengan baik makan makanan yang sehat dan akan selalu tersenyum. Meskipun di saat aku menangis, jiwaku akan berdiam di sini Amagi.  Waktuku akan berhenti saat ini juga dan entah kapan akan bergulir kembali. Bersamamu di masa lalu. Selamat jalan Amagi. Kau orang yang mengajariku arti dari perasaan yang tulus. Selamat jalan cinta pertamaku.

hallo semua ! apa kabar kalian ? sudah lama aku tidak mengurus bloggku yahh karna banyak pr yang menumpuk dan juga sedang malas untuk menulis sesuatu, hehe kali ini aku memposting sebuah cerpen yang sudah di konversikan menjadi sebuah naskah drama. Sebenarnya ini salah satu tugas sekolah. Tapi sayang sekali kan kalau cerpen yang sudah di konversikan ini di biarkan begitu saja tanpa di bagikan. semoga kalian suka dan maaf jika dalam penyusunan katanya masih kurang aku masih amatir sih so'alnya. baiklah terima kasih sudah mau berkunjung ke bloggku. Selamat membaca ! ^^

Senin, 14 Juli 2014

Kelas Baru, Hari Baru, Temen Lama !!???

halooo blogku !! ada begitu banyak hal untuk ditulis dan ada begitu banyak hal untuk diceritakan, tahun ajaran baru itu kesannya sangat sangat sangat.... mendebarkan bagi sekian pelajar. Termasuk saya sendiri yang juga masih seorang pelajar *huhuhuuu...*

hal yang mendebarkan bagi sebagian pelajar mungkin tentang kelas mana yang akan mereka huni, siapa yang ingin duduk sebangku bersamanya atau bagaimana wajah orang - orang yang menghuni kelas tersebut. Secara.... gitu.. mereka bakal bersama setidaknya setaun atau tiga tahun selama duduk di bangku pelajar SMA dan SMP begitupula lah mungkin juga bakal dirasakan sebagian besar anak SD dan TK !! *ohohoh

nah nah kali ini yang ingin saya ceritakan bukan tentang bagaimana tahun ajaran bagi seluruh pelajar di Indonesia, tidak, saya hanya ingin menceritakan tentang tahun ajaran baru di SMA ku yang tercinta *muahhh(?)
pagi hari yang cerah hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang dan membosankan berakhir di hari minggu tepatnya di hari kemarin perasaan ku malah campur aduk antara senang dan sedikit menderita (?) takut akan serangan mata dari para anak - anak baru atau biasa disebut adik kelas. Maklum gitu ya secara diriku ini *elahhh* sedikit tidak suka dengan keramaian atau sedikit sekali bersosialisasi di dunia nyata! gimana enggak tiap hari hanya tiduran aja di kamar hahahaaaaa *bangga gak karuan
oke balik lagi ke cerita tahun ajaran baru.

sebagian dari kalian pasti menggambarkan kalo setiap tahun ajaran baru itu identik dengan tas baru, sepatu baru, baju baru, temen baru, isi dompet baru *maksudnya uangnya yang baru, pasti ! hhaaa*
tapi lahh muka masih yang lama ! ganti dong tuh topeng masak iya muka masih makek topeng yang lama! huwaksss gak buat saya  tuhh, saya maih seperti inilah.. gak tertarik beli beli barang baru secara barang lama masih wokehh lumayan duit buat beli barang baru bisa di simpen buat tambahan di dompet kwkwkw :3

 itu mungkin sebagian besar yang kalian pikirkan. Tapi tidak buatku yang memang udah berantakan kepribadiannya, kamar aja tiap hari ditolongin ortu mulu buat ngebersihinya maklum anak di manja (jangan dtiru !) begitu bangun sudah pasti di bulan puasa kita sahur dong kan anak shaleh taat agama *plakk* habis sahur nunggui subuh buat mandi sekalian sholat subuh, bayangin di pagi hari di suruh mandi tanpa di beri air hangat ! bekulah ! tapi gak masalah buat ku yang kulitnya udah kebel hawa dingin.

mata yang ngantuk badan yang terasa masih kepingin meluk kasur sama guling seketika hilang ! yang ada cuman deg degan di jantung yang kerasaaa ngeudd itu ketika sampai di depan gerbang sekolah. Gila busettt nih adik kelas apa orang yang mau ngelamar di kantor guru buat jadi OB/OG kantor gurukah ? *engaakkk* adik kelas pada ngeliatin dengan mata mereka yang mengeluarkan laser ! ehh nbercanda ding, daku yang paling gak suka hal begituan yang udah ngibrit aja masuk ke dalam menuju para makhluk menunggu di dalam *AAPEROS sobat sejatiii*

singkat cerita, setelah skian lama berkarat mengunggu pengumuman kelas, ehh langsung disiruh serbu aja gedung belakang disuruh cari sendiri kelasnya liat kertas di jendela kelas masing - masing ,kami yang dulunya masuk kelas X.ips2 ehh di oper ke kelas XI. ips3. Orang kelas ? teutep para makhluk X.ips2 gak berubah dalam hati sempat teriak *hurayyy sekelas 3 tahun ! gak perlu repot -repot cari temen baru* hahaa emang ya otak ini terkadang sedikit eror (?) miring sedikit bisa jadi orang anti sosial juga nih diri HAHAA *tawagila
besyukur karna gak perlu repot - repot melotot ke orang baru disaat mereka ngotot ngerebut bangku kita dan bersyukur gak perlu pisah dari mereka semua meski terkadang mereka semua bikin diri ini sanggup buat membenci mereka tapi teutep aja dongg diriku ini sayang sama mereka huohuohoo

yah daku beruntung karna dapet bangku yang strategis, namun kelas yang lumayan gak startegis. Lantai dua coy ! mana gedung di belakang sekali.. gempor dah tiap hari naik turun tangga. Yah besyukur jg sih gak dapet di lantai tiga, metong dahhh kalo dapet di lantai tiga, hari yang lumayann lucky ! buat diri ini hehee. Thanks to allah, masih diberi kesempatan buat bersama sobat - sobat gilaku hohooo. ^.^

Selasa, 08 Juli 2014

Fly, My Heart !

selayaknya burung kecil yang terbang di angkasa dengan kedua sayapnya yang mengepak ngepak bersyukur akan sebuah kebebasan.
sesuatu yang membuat seluruh tubuhmu merasakan sebuah kebahagiaan.
dalam alunan lagu..
terhanyut akan keindahan..
disaat dirimu hancur.. disaat dirimu tenggelam dalam kegelapan..
cobalah bebaskan dirimu dengan sesuatu yang kau anggap itu adalah dirimu..
cobalah untuk keluar melihat angkasa..
cobalah untuk merasakan udaranya..
cobalah untuk melangkah dari kegelapan itu
dan rasakan kebebasan, rentangkan tanganmu
pejamkan matamu, hanyutlah dalam kesedihan dan kebahagiaan.
terbanglah setinggi laingit di anggkasa.
sentuhlah awan di sana dengan jemarimu.. tak perduli kau besar atau kecil.. tak perduli kau apa..
berjuanglah.. teruslah melangkah nikmatilah dunia meski kau merasa seakan duniamu telah hancur.
pejamkanlah matamu dan dengarkanlah alunan lagu itu yang mencoba menyembuhkan hatimu
terbanglah melesat menembus awan di ngkasa dengan alunan lagu dalam hatimu.

Sabtu, 26 April 2014

Fake Smile

hanya perasaan ku saja atau memang kalian semua pergi meninggalkanku dan mulai menjauhiku ??
hanya perasaanku saja kah yang tidak berarti ?
hanya keegoisanku kah yang mengganggu kalian?
teman ? sahabat ? mengerti ? paham ? menyayangi ?
kalian hanya bisa melihat hati kalian saja !
terlalu egois ? terlalu kekanakan ?
apa kalian sendiri tidak berfikir bahwa kalian sendirinya juga bersikap sedikit munaf dan egois ?
terkadang aku ingin menghancurkan diriku sendiri atau meledakan kepala ku sendiri.
terkadang aku ingin menangis dan terkadang aku ingin menjerit apa kalian tau tentang perasaanku itu ?
tidak.. kupikir kita semua saling membangun tembok di hati masing--masing,
kurasa kita selalu menutup diri sendiri,
kupikir kita semua memang saling mengacuhkan satu sama lain,
satu sisi aku menyerah namun keadaan terus memaksaku untuk tersenyum meski sejujurnya aku tak bisa.